PENAFSIRAN MASYARAKAT TENTANG SUGIHAN JAWA DAN SUGIHAN BALI

  • 25 Mei 2018
  • Dibaca: 1359 Pengunjung
PENAFSIRAN MASYARAKAT  TENTANG SUGIHAN JAWA DAN SUGIHAN BALI

Rangkaian pelaksaan hari Raya Galungan dan Kuningan yaitu Sugihan Jawa dan Sugihan Bali tetap menjadi tradisi yang dijalankan umat Agama Hindu sedharma. Namun, banyak masyarakat salah penafsiran dengan kedua rangkaian hari raya ini. Beredar di masyarakat perbincangan bahwa Sugihan Jawa, "Kone" atau katanya berasal dari Jawa karena kemungkinan leluhurnya dulu berasal dari Jawa (Majapahit). Sedangkan yang merayakan  Sugihan Bali, leluhur mereka terdahulu memang "Asli Bali" atau sorohnya berasal dari "Bali Mula" atau "Bali Aga".

Terlepas dari penafsiran tersebut, berdasarkan Lontar Sundarigama, Sugihan Jawa diartikan sebagai Pasucian Dewa Kalinggania pamrastista Bhatara Kabeh (pesucian Dewa, karena itu hari penyucian semua Bhatara). Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba jatuh setiap hari Kamis (Wraspati) Wage wuku Sungsang yang kali ini jatuh pada Kamis (24/05/2018). Kamis Wage Sungsang disebut dengan Parerebon, dimana Rerebu atau marerebon bertujuan untuk menetralisir kekuatan negative pada alam semesta atau Bhuana Agung. Seperti membersihkan pelinggih atau tempat-tempat suci yang digunakan sebagai tempat pemujaan.

Sugihan Bali jatuh pada hari Jumat (Sukra) Kliwon wuku Sungsang sehari setelah Sugihan Jawa yaitu Jumat (25/05/2018). Sugihan Bali berasal dari kata Sugi yang berarti membersikan dan Bali artinya  kekuatan yang ada dalam diri (Bahasa Sansekerta). Jadi Sugihan Bali adalah upacara yang bertujuan untuk menyucikan Bhuana Alit atau pembersihan lahir dan batin secara niskala dan sekala. Hal yang dapat dilakukan seperti penglukatan dengan menggunakan sarana bungkak nyuh gading. Dalam Lontar Sundarigama, Sugihan Bali bermakna Kalinggania amrestista raga tawulan yang berarti, oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing / mikrocosmos yaitu dengan memohon tirta pembersihan / penglukatan.

Sugihan Jawa maupun Sugihan Bali baik untuk dilaksanakan keduanya, sebab dikisahkan bahwa dalam menyambut hari Raya Galungan, Dewa Siwa menugaskan para Bhuta untuk menggoda para manusia. Sehingga dengan melakukan pembersihan Bhuana Agung pada Sugihan Jawa dan pembersihan Bhuana Alit pada Sugihan Bali, akan mampu menjauhkan kita dari godaan para Bhuta yang dapat merugikan diri kita. Namun perbedaan pendapat di kalangan mayarakat tidak akan menjadi masalah jika dilaksanakan sesuai dengan desa Kala Patra (keyakinan kita sendiri). Intinya kembali kediri sendiri mana yang terbaik.

 

001/Widi Paramita/KIM-MB/2018

  • 25 Mei 2018
  • Dibaca: 1359 Pengunjung

Artikel Lainnya

Cari Artikel